SEMOGA ADA SETITIK BAROKAH TERSIRAT DARI SAJIAN YANG TERSURAT SEHINGGA HIDUP LEBIH BERMAKNA DAN BERGUNA
Showing posts with label Berita. Show all posts
Showing posts with label Berita. Show all posts

Friday, December 14, 2012

Aplikasi UN MA Tahun 2013

Untuk  mendukung persiapan pelaksanaan Ujian Nasional Tahun 2013, Kementerian Pendidikan Nasional melalui Kementerian  Agama lalu diteruskan oleh masing-masing ketua KKM menyebarkan aplikasi pendataan calon peserta ujian nasional 2013. Oleh sebab itu KKM MA Muallimin NW Anjani menyediakan link download aplikasi tersebut.
1. Download Petunjuk Pengisian Klik Disini
2. Download Aplikasi UN 2013 klik Disini

Link ke Facebook

Wednesday, September 19, 2012

Lomba Parade Drumband Kecamatan Suela Tahun 2012

Parade Drumband oleh Corps Drumband Pontren Putra Rinjani NW Dasan Baru Desa Suntalangu Kecamatan Suela Kabupaten Lombok Timur, dilaksanakan di lapangan kantor camat Suela, Senin 15 September 2012. acara ini dilaksanakan dalam rangka memeriahkan HUT RI Ke 67 yang telah terlaksana pada bulan Agustus yang lalu. Keterlambatan pelaksanaan lomba dan pertandingan dalam rangka memeriahkan HUT RI ini disebabkan karena pada bulan agustus yang lalu bertepatan dengan momen Puasa Ramadhan sehingga pelaksanaannya diundurkan sampai dengan bulan september. Hadir pada saat itu 3 Corps Drumband tingkat SMP/MTs dan SMA/MA dan 5 Corps tingkat SD/MI sekecamatan Suela. Thamrin, S.Pd. selaku sekretaris panitia penyelenggara mengungkapkan bahwa parade ini juga dimaksudkan sebagai motivasi bagi sekolah lain untuk segera melengkapi sekolahnya dengan alat drumband sebagai salah satu alat keterampilan dan kesenian bagi anak didik. kedepan mudah-mudahan semua sekolah sudah mempunyai alat drumband sehingga dapat kita kompetisikan untuk memicu gairah belajar anak. 

Link ke Facebook

Wednesday, September 5, 2012

Kotak Hitam dan Muadzin Mesir



Hidayatullah.com--“Para muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya nanti pada hari kiamat.”(HR. Muslim). Maksudnya, tatkala manusia sudah berdesak-desakan dan ketika keringat-keringat manusia sudah membanjiri mereka, bahkan ada yang keringatnya setinggi mulutnya, maka muadzin selamat dari semua itu karena lehernya yang panjang. (Syarh Muslim: 4/333, karya An-Nawawi). Namun apa jadinya, jika tugas muazdin yang mengumandangkan adzan di masjid-masjid diganti dengan sebuah kotak hitam kecil. Maka akan hilanglah keutamaan yang mereka harap-harap itu, berikut pahala dari Allah di hari akhir nanti.
Pada era Husni Mubarak, pemerintah Mesir memberlakukan ketentuan penyatuan adzan untuk wilayah Kairo. Tujuannya, mengurangi suara bising yang keluar dari pengeras suara masjid ketika waktu shalat tiba. Jika proyek percontohan itu lancar, maka akan diterapkan di seluruh penjuru negeri.
**
Pada suatu hari Kamis di bulan Agustus 2010, insinyur-insinyur dari perusahaan kontraktor pemerintah Arab Agency for Production, mendatangi masjid-masjid yang terletak di daerah Heliopolis, Kairo. Mereka membawa kotak-kotak hitam kecil yang tertera tulisan “Kementerian Wakaf” dalam warna putih.
Ketika itu hari kedua bulan Ramadhan, jadi tidak ada seorang pun yang makan sejak pagi hari. Para imam sibuk mempersiapkan keperluan untuk shalat tarawih. Sementara para muadzin menyambut kedatangan teknisi-teknisi itu, yang kemudian memasang kotak hitam tersebut di masjid mereka.
Para teknisi dengan sopan menjelaskan bahwa kotak-kotak itu akan menyala dan mati sendiri saat dan setelah adzan dikumandangkan. Jadi, tidak perlu disentuh sama sekali. Semua seruan adzan di Kairo dan Heliopolis akan terdengar serentak.
Sebelumnya, para muadzin sudah mendengar kabar bahwa adzan seantero Kairo akan disatukan, dengan meneruskan suara adzan dari Radio Kairo lewat kotak-kotak hitam tersebut. Tetapi, banyak yang mengira hal itu tidak mungkin menjadi kenyataan.
“Kami mengetahuinya dari koran. Tidak ada seorang pun yang memberitahu kami,” kata seorang muadzin.
Proyek “perang melawan mikrofon masjid” itu dilaksanakan oleh Menteri Waqaf Hamdy Zaqzouq. Selain untuk menyatukan kumandang adzan, hal itu dimaksudkan untuk mengurangi suara bising di kota Kairo yang semakin bertambah jumlah kendaraan dan bangunannya.
Zaman dahulu, muadzin harus menaiki tangga ke puncak menara untuk mengumandangkan adzan. Setelah ada pengeras suara, loudspeaker yang bertengger di pucuk-pucuk menara itu.
Udara Mesir yang lembab dan berdebu sangat tidak bersahabat dengan pengeras-pengeras suara. Debu menyumbat di sela-selanya. Maka ketika adzan dikumandangkan, bukan suara indah muadzin yang terdengar, melainkan bunyi yang tidak nyaman di telinga.
Antropolog Charles Hirschkind menilai suara-suara adzan di Kairo itu unik dan indah. Dia menyebutnya “pola interferensi di langit.”
Tetapi ada pula yang menyebutnya jelek. Salah seorang mahasiswi bernama Sama Mustafa pernah mengatakan bahwa suara adzan di Kairo sangat “menjengkelkan” dan “melengking”, sehingga membuatnya ingin mencakar kulitnya.
Berdasarkan studi tahun 2005, Kementerian Waqaf berkesimpulan bahwa suara adzan di Kairo terlalu keras. Di samping itu, banyak muadzin amatir yang mengumandangkan adzan seenaknya dari sudut-sudut masjid kecil tanpa ada pengawasan.
“Sayangnya, banyak suara yang tidak indah dikumandangkan oleh muadzin di lingkungan kita,” kata Salam Abdul Jalil, pengawas proyek “kotak adzan”. “Sebagian dari mereka mengumandangkan adzan lebih awal di banding yang lainnya, sehingga menyebabkan kebingungan.”
Satu kotak hitam yang dipasang di masjid-masjid itu berharga sekitar LE170, termasuk biaya pembuatan dan pemasangan. Proyek yang melibatkan 3.000 masjid di Kairo dan sekitarnya itu dikabarkan menelan biaya antara 600.000 sampai 1 juta pound Mesir. Jika proyek contoh di Kairo berhasil, maka akan diperluas ke kota-kota besar seperti Alexandria dan ibukota gubernuran lainnya.
**
Sebelum proyek itu dilaksanakan, pada tahun 2004 Universitas Al Azhar sudah menentangnya. Mereka menyebut ada campur tangan Amerika Serikat di sana. Dan kaki tangan Washington di Kairo, Presiden Husni Mubarak, ingin “membungkam agama.”
Maurice Chammah, salah seorang teknisi yang ikut memasang kotak hitam itu, belum lama ini mengunjungi sebuah masjid yang terletak di dekat Qala'at Shalahuddin, bentengnya Shalahuddin Al Ayyubi di Kairo.
Seorang muadzin menyapanya dengan ramah, sambil kemudian mereka duduk di lantai.
Saat ditanya tentang penyatuan kumandang adzan, suasana hati muadzin itu langsung berubah.
“Saya akan kehilangan pekerjaan,” jawabnya.
Dia kemudian mengajak Chammah menuju sebuah ruangan kecil di bagian utama masjid tersebut. Di dalamnya ada rak berisi perangkat elektronik. Lampu-lampu kecil warna hijau dan merah terlihat berkedap-kedip, dengan kabel listrik menjulur di dekatnya.
Muadzin itu lantas mengambil sebuah kotak hitam kecil dari rak.
“Banyak muadzin Radio Kairo yang suaranya jelek,” ujarnya.
“Lantas apa yang Anda lakukan?” tanya Chammah.
Muadzin itu meringis. “Saya cabut saja kotaknya.”
“Tidak ada yang menangkap Anda?”
“Tidak ada satu pun orang yang datang memeriksa sejak mereka memasangnya,” jawab muadzin.
“Seperti ini biasa terjadi?” tanya Chammah.
“Oh iya. Kami semua melakukannya,” jawab muadzin itu.
**
Waktu menunjukkan pukul 3:30 petang, waktunya shalat Ashar. Dari pengeras suara terdengar suara “Allahu Akbar... Allahu Akbar.”
Muadzin bergegas menuju ruangan kecil tadi. Tiba-tiba suara adzan itu lenyap.
Si muadzin muncul tidak lama kemudian. Dia berjalan menuju mikrofon, lalu mengambilnya. Dia lantas berdiri sambil menengadahkan sedikit kepalanya. Satu tangannya memegang mikrofon, tangan lainnya menutup satu sisi telinganya, lalu ia mengumandangkan adzan.
Suaranya terdengar bagus, meski sedikit merisik. Maklum, pengeras suaranya murahan.
Terdengar pula suara adzan dari masjid lain yang menyelinap masuk ke dalam ruangan masjid itu.
Setelah mengumandangkan adzan, muadzin itu lantas kembali ke ruangan kecil, untuk memasang lagi kotak hitam yang dicopotnya. Jaga-jaga, kalau tiba-tiba ada orang datang untuk memeriksa.
Bebeberapa hari kemudian, Chammah mengunjungi masjid lain yang terletak di seberang jalan masjid pertama. Dia bertanya kepada muadzin setempat tentang proyek penyatuan adzan. Orang itu menjelaskan, tidak ada lagi yang meneruskan proyek tersebut setelah terjadi revolusi, pergantian presiden dan masalah politik lainnya belakangan ini.
“Mereka memasang kotak itu sebelum revolusi,” cerita muadzin itu. “Tapi beberapa bulan kemudian kotaknya rusak, jadi saya yang mengumandangkan adzan sekarang.”
Chammah kemudian bertanya tentang masjid yang terletak di seberang.
Ia dan muadzin itu beradu pandang, saling menatap.
“Kotaknya dia rusak, sama seperti milik saya,” ujar muadzin itu.
“Rusak, ah yang benar?” tanya Chammah sengaja memancing pembicaraan, sebab ia tahu kotak hitam di masjid seberang tidak rusak.
Muadzin tersebut lantas mengerdipkan sebelah matanya.
“Iya,” ujarnya.
“Banyak yang rusak, jadi kami harus mengumandangkan adzan sendiri.” kata muadzin itu.***

Diceritakan kembali dari tulisan Maurice Chammah “One voice, many mosques: As call to prayer is unified, muezzins defy government orders” yang dimuat di Al Mishry Al Yaum (13/7/2012), dengan beberapa penyesuaian tanpa mengubah isi cerita.

Link ke Facebook

Ketika Putra-Putri “Jepang” Belajar al-Qur'an



Bermula dari keinginan kaum Muslim-Muslimah Jepang yang menginginkan putera puteri mereka mendapatkan pendidikan Islam yang baik, pada bulan Mei tahun 2011, dibentuklah Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) Hikari. Pada saat didirikan, peserta didik TPA Hikari berjumlah 7 orang, meliputi anak keluarga asal Indonesia dan anak keluarga asal Jepang. Rupanya, jumlah pesertanya terus bertambah, kini mencapai sejumlah 16 anak dan 7 di antaranya anak dari ayah Muslim asli Jepang.

TPA Hikari ini salah satu taman pendidikan Islam dan Quran yang ada di Tokyo. Salah satu keunikan TPA ini adalah karena genuine ’made by Indonesian’.
Adapun pusat pendidikan Islam di Tokyo biasanya diselenggarakan oleh saudara-saudari Muslim Pakistan, Turki dan berbagai negara lainnya yang umumnya menggunakan bahasa Inggris atau Jepang sebagai media pembelajaran.

Dipilihnya nama ’Hikari’ sebagai nama TPA bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Jepang, ’Hikari’ berarti cahaya. Para pendiri TPA Hikari memiliki obsesi untuk bisa melahirkan pemuda-pemudi Jepang masa depan pembawa cahaya aqidah tauhid, beribadah yang shahih, berakhlaq mulia, kuat fisiknya, dan cerdas.

Kegiatan TPA ini diadakan 2-3 kali seminggu. Waktu yang digunakan adalah sore hari, setelah anak-anak yang sudah sekolah pulang. Mengingat banyaknya fasilitas publik yang tersedia di Tokyo, TPA Hikari pun tidak ketinggalan memanfaatkan berbagai fasilitas tersebut sebagai tempat belajar. Salah satu tempat favorit belajar Quran bagi anak-anak TPA Hikari adalah taman-taman bermain, yang dalam bahasa Jepang disebut ’koen’.
Di koen itulah, sebulan sekali anak-anak TPA Hikari mempelajari berbagai ciptaan Allah sehingga mampu membaca ayat-ayat kauniyah dan mengingat Allah. Mereka juga gemar mengikuti berbagai permainan dan menyanyi nasyid bersama dipandu Sensei-sensei TPA Hikari yang ramah.

Pada berbagai momentum, seperti Shalat Iedul Fithri di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), TPA Hikari sering diundang untuk ikut menyemarakkan berbagai kegiatan anak-anak.
Sebagai contoh, setelah shalat Ied, diadakan acara ’Ied Ceria’ yang menampilkan kebolehan anak-anak Muslim Indonesia-Jepang. Di acara seperti ini, mereka menunjukkan hafalan Quran, puisi dan berbagai pementasan lainnya.

Kita mungkin perlu melihat dari kacamata anak-anak muslim Jepang. Di sekolah saat jam makan siang, anak-anak Jepang lainnya sering bertanya, “Kenapa tidak makan babi?” Ini kerap menimbulkan rasa terasing bagi anak-anak Muslim Jepang. Di komunitas anak-anak Muslim seperti TPA Hikari inilah, mereka menemukan saudara-saudari ’aslinya’.
Perasaan bahwa mereka tidak sendiri dan masih merupakan bagian dari komunitas itu sangat penting bagi perkembangan psikologis anak-anak. TPA juga berperan dalam memberikan kepercayaan diri bagi anak-anak muslim untuk bangga dengan identitas Islam. Dan hasilnya mereka dapat menolak saat sensei di sekolah meminta mereka untuk menulis wish (harapan) dikertas lalu menggantungnya di pohon, menggambar pohon natal, dan tidak percaya kalau ada sinterklaus yang akan datang dimalam natal.

Semoga lebih banyak lagi diselenggarakan pusat pendidikan Islam dan Quran di Tokyo dan Jepang secara umum. Agar kelak generasi ini mampu membentuk wajah Jepang yang sama sekali baru.  Di mana masyarakat Jepang akan mengatakan; “Nyatakan Tiada Ilah selain Allah.”.*/Kiriman Fariz Nurwidya, Jepang

Link ke Facebook

Upaya Kristenisasi Di Mushalla


Seperti biasanya, menjelang Dzuhur, Sumaryono, aktivis Muhammadiyah di Kelurahan Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, pergi ke mushalla untuk shalat berjamaah. Yono datang lebih awal karena bertugas mengumandangkan adzan tepat waktu di mushalla yang hanya 500 meter dari rumahnya. Setiba di mushalla yang lokasinya di belakang Stasiun Kereta Api Pondok Kopi ini, Yono melihat buku saku bersampul kuning tergeletak di bawah pintu. 

Awalnya, ia mengira buku berjudul “Jalan Tauhid Lurus ke Surga” itu adalah bacaan islami, karena banyak mengutip ayat-ayat al-Qur'an. Tapi setelah meneliti lebih seksama, ternyata isinya menyudutkan Islam, Allah dan Nabi Muhammad saw. 

“Ini pasti buku Kristenisasi,” batin Yono. Maka, tanpa pikir panjang, ia mencari orang yang memasukkan buku ini ke mushalla. Di luar hanya ada anak-anak kecil yang memegang selebaran tentang kiamat. 

Selebaran ini juga misterius, karena tidak mencantumkan nama dan alamat penerbit. Isinya juga banyak mengutip al-Qur'an dan hadits, tapi menyanjung Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat. Maka, Yono menyimpulkan, ”Ini juga Kristenisasi.” 

Menurut anak-anak yang sedang main di halaman mushalla itu, buku dan selebaran ditaruh orang yang tak mereka kenal. Anehnya, orang itu memakai baju koko dan peci.  

Buku yang berjudul “Jalan Tauhid Lurus ke Surga” ini berisi ajakan untuk beribadah menyembah Yesus Kristus. Ini terlihat pada bagian yang mengajak pembaca untuk menyeleksi para nabi, dimulai dari Ibrahim, Musa, Yesus, sampai Muhammad saw. 

Ia menulis, “Sebelum mengikuti satu tokoh, seharusnya dikenali lebih dulu watak tokoh itu, apalagi jika hendak menyembah tokoh tersebut.” (hlm 15).

Ajakan yang sarat kemusyrikan ini bertolak belakang dengan spirit judul yang menawarkan jalan tauhid yakni, beribadah hanya kepada Allah SWT. Memilih nabi manapun sebagai tokoh untuk dijadikan sebagai Tuhan adalah langkah yang salah dalam beragama. Sebab para nabi tak satupun yang memproklamirkan diri sebagai Tuhan. Semua nabi mengajak manusia beribadah dan menyembah pada satu-satunya Tuhan yang haq yaitu Allah SWT.

Nabi Ibrahim mengajak umatnya menyembah Allah yang Maha Menciptakan, Maha Memberi hidayah, Maha Memberi rezeki, Maha mengampuni, Maha menyembuhkan, menghidupkan dan mematikan  (QS az-Zukhruf: 27-28, asy-Syu’ara: 78-82). Nabi Musa pun bertauhid pada Allah yang menciptakan bumi, langit dan seluruh isinya (QS asy-Syu’ara: 24, al-A’raf: 121-122). Bandingkan dengan Alkitab (Bibel) tentang ajaran tauhid Nabi Musa (Ulangan 4:35, 4:39, 6:4, dan 32:39).

Nabi Isa (Yesus) juga mengajak umatnya untuk bertauhid menyembah Allah tanpa mempersekutukan dengan sesuatu apapun. Dengan keras beliau menyatakan kafir bagi orang yang menjadikan dirinya sebagai Tuhan. Semua orang yang mempersekutukan Allah itu haram masuk surga dan akan dimasukkan di neraka (QS al- Ma’idah: 72-73). 

Jika berpikir objektif, semestinya penulis buku pemurtadan ini bisa menangkap ajaran tauhid Yesus dalam Bibel. Secara tegas Yesus mengajarkan kepada muridnya bahwa hukum yang paling utama adalah mengesakan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang benar, dan mengakui Yesus bukan sebagai Tuhan tapi utusan Tuhan (Markus 12: 29, Yohanes 17: 3).

Muhammad saw sebagai nabi pamungkas juga mengajarkan tauhid (QS Muhammad 19, as-Syuuraa: 11, al-An’aam: 163, al-Mukminun: 91, an-Nahl: 51, dan lainnya). Jadi, betapa pun hebatnya sang tokoh, tapi ia tidak boleh dijadikan sebagai Tuhan, karena sampai kapan pun tokoh itu adalah makhluk (ciptaan) Tuhan. Maka kekaguman pada seorang tokoh hendaklah dialamatkan pada Tuhan yang memberikan kehebatan (mukjizat) pada tokoh itu. 

Mungkin saja, penginjil penulis brosur ini masih rabun imannya, sehingga tidak bisa membedakan antara manusia dengan Allah. Seyogianya ia menelaah buku “Perbedaan Allah dan Tuhan Rekayasa dalam Tinjauan Al-Qur'an.” Dalam buku ini, penulisnya, Muhammad Thalib, menjelaskan 20 karakteristik yang membedakan Allah SWT dengan Tuhan rekayasa atau ciptaan manusia.

Tapi penulis buku kristenisasi ini cukup licik dalam mengelabui pembaca. Agar tidak dituding Kristenisasi, ia tidak mau mengaku sebagai Kristen, melainkan seorang “Ahlul Injil” (penganut Injil). Injil yang dimaksud juga bukan kitab Injil, karena Yesus tidak membawa kitab dan tidak menerima wahyu (firman) Tuhan, karena Yesus itu adalah wujud dari firman Tuhan. 

Menurutnya, Injil hanyalah berita suka cita yang disampaikan oleh Yesus (hlm 18).

Tipuan ini sebenarnya menipu diri sendiri, karena pada beberapa bagian ia tidak menutupi iman kekristenannya. Misalnya, ketika mengajak pembaca untuk mengakui doktrin Kristen tentang inkarnasi Tuhan menjadi Yesus: 

“Janji setia Ahlul Injil berbunyi: ‘Saya menyembah Tuhan yang menciptakan diriku yakni, Pemilik surga.... yang tampil dalam wujud manusia Yesus Kristus. Amin” (hlm 20).

Menyatakan diri sebagai Ahlul Injil yang berbeda dengan Kristen karena berpedoman pada Injil Yesus, bukan Injil dalam Bibel, adalah kebohongan yang tidak lucu. Karena pada halaman terakhir, ia menyebutkan 7 sikap Ahlul Injil yang semua didasarkan pada Injil Matius, Markus, dan Yohanes. Lantas, apa bedanya Ahlul Injil dengan Kristen? Sami mawon, dong!

Keyakinan bahwa Yesus tidak menerima wahyu (firman) dari Tuhan, semakin membuktikan bahwa misionaris penulis buku saku ini hanyalah teolog abangan yang tidak memahami kitab sucinya sendiri. Apalagi terhadap kitab suci agama lain. Pasalnya, pernyataan misionaris ini dibantah oleh Yesus dalam Bibel: “Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepadaku telah kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya,” (Yohanes 17:8).

Jika Yesus diyakini tidak pernah menerima firman Tuhan karena Yesus adalah wujud inkarnasi firman Tuhan, apakah sabda Yesus dalam Injil Yohanes tersebut harus digadaikan? 

Aneh memang. (TIM FAKTA)
sumber : www.sabili.co.id/indonesia-kita/upaya-kristenisasi-di-mushalla

Link ke Facebook

Tuesday, September 4, 2012

Kekayaan Islam di Masjid Cheng Hoo






www.majalah-alkisah.comMasjid Muhamamd Cheng Hoo yang diresmikan tahun 2003 lalu menjadi simbol peranan da’i Tionghoa dalam Penyebaran Islam di Nusantara. Masjid unik yang ingin menggambarkan keberagaman dan keindahan agama Islam.


Sekitar sembilan tahun lalu ada yang istimewa di Surabaya, khususnya bagi para warga keturunan Tinghoa. Selain mendapat kunjungan Menteri Agama Prof. DR. Said Agil Husein Almunawar, masjid yang mereka bangun dengan biaya swadaya itu berhasil masuk dalam MURI (Musium Rekor Indonesia).

Nama masjid itu adalah Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia. Jika Anda sedang berada di Surabaya, ada baiknya meluangkan sedikit waktu untuk berkunjung ke sana. Untuk menuju ke sana tidaklah sulit karena letaknya di jantung kota pahlawan, tepatnya di Jalan Gading, sekitar 500 meter arah barat THR (Taman Hiburan Rakyat) Surabaya. Tidak seperti layaknya masjid yang ada di sekitar kita, bentuknya tergolong ‘aneh’, bisa-bisa Anda mengira salah alamat karena mempergunaan arsitektur Cina abad pertengahan.

Secara fisik, bangunan berukuran 21x11 meter yang berdiri di atas tanah seluas 3.000 meter persegi itu menggambarkan Klenteng, tempat peribadatan umat Buddha keturunan Cina. Paling tidak dua hal yang meyakinkan kita bahwa bangunan itu benar-benar masjid karena kentalnya nuansa Islami dengan dominasi lafal Allah dalam tulisan Arab yang terbuat dari chrome di atas kubah yang berbentuk pagoda. Serta, pada bagian lain tertulis: Masjid Muhammad Cheng Hoo, di atas pintu utama dalam dua huruf Indonesia dan Cina.

Azan salat Asar baru dikumandangkan. Tampak di sisi kanan masjid beberapa orang antre mengambil air wudu, sebagian lainnya duduk mengisi shaf, khusyu’ dengan aktifitas masing-masing: membaca Al-Quran, berwirid, dan lainnya. Bagi Anda yang pernah menunaikan ibadah haji, pemandangan yang ada menggambarkan miniatur Islam. Semua berbaur, tidak ada batas antara pribumi dan non-pri.

Tak lama kemudian, iqamat dilantunkan. Para jamaah pun mengisi shaf yang ada. Bagi kaum hawa, tempatnya di sisi kiri. Tidak ada tabir penghalang antara jamaah laki-laki dan perempuan, kecuali struktur bangunannya (Lantai ruangan utama lebih tinggi, sekitar setengah meter, dibanding dua ruangan sayap kanan dan kiri). Di barisan pertama, terlihat berdiri seorang pemuda keturunan Tionghoa. Dari gerakannya terbaca kalau dia muallaf. Sebentar-sebentar menoleh ke depan, ke kanan atau ke kiri, seolah mencari tahu posisi yang sebenarnya seraya sesekali membetulkan posisinya. Usai salat, setiap jemaah pun kembali tenggelam dalam aktifitas masing-masing, termasuk sang muallaf tadi.
www.majalah-alkisah.com
Seperti umumnya Klenteng, bangunan itu didominasi warna merah, ditimpa warna hijau pada gentengnya, dan sedikit kuning pada bagian-bagian tertentu. Ruangan utamanya berukuran 11x9 meter. “Arti filosofisnya, sebelas adalah ukuran Ka’bah saat pertama kali berdiri, sedang angka sembilan menandakan wali songo. Karena kalau diteliti, sebagian dari mereka kan keturunan Tionghoa?”, ujar Delfri Yusransyah Daz, Humas PITI Jatim kepada Alkisah. Sedangkan dua ruangan sayap masing-masing berukuran 5,5x7 meter. Adapun kubah yang berbentuk pagoda itu bersusun tiga yang mengerucut ke atas, memiliki delapan sisi. Ini pun memiliki arti filosofis. “Menurut tradisi Tionghoa, angka delapan menandakan Pat Kwa yang artinya keberuntungan atau kejayaan,” jelas laki-laki asal Padang, Sumatera Barat itu.  Diperkirakan bangunan itu dapat menampung sebanyak dua ratus jemaah. Bahkan khusus untuk salat Jumat mereka mendirikan tenda sehingga bisa menampung sekitar tujuh ratus jemaah.

Menurut Delfri, arsitekur masjid diupayakan maksimal agar setiap detail memiliki makna tersendiri. Secara umum, bentuknya terinspirasi oleh arsitektur cina kuno masjid Niujie di Beijing (dibangun tahun 996 M.). Maka tak heran jika dalam pelaksanaan pembangunannya terjadi perubahan di sana-sini. Tim yang dibentukpun terpaksa mondar-mandir Surabaya-Beijing demi sempurnanya bangunan yang menelan biaya sekitar Rp. 700 juta itu. Untuk mendapat disain yang pas dibutuhkan waktu tiga bulan. Sang arsitek Ir. Aziz Djohan, yang juga warga keturunan Cina asal Bojonegoro ini menghendaki sebuah masjid yang unik yang beda dengan yang lain sebagai cermin kekayaan Islam.

www.majalah-alkisah.comPihak pengelola tidak ingin masjid itu terkesan eksklusif, cap yang selama ini melekat pada kaum Tionghoa. Kesan inklusif itu terlihat dari tidak adanya pintu atau jendela. Semua serba terbuka. Bahkan yang lebih ekstrem, seperti dituturkan seorang pengurus PITI (Persatuan Iman Tauhid Islam) Surabaya, ornamen dinding mihrab mirip dengan yang umumnya ada di gereja. Di samping itu, budaya setempat (Jawa) diadopsi. Misalnya bentuk joglo dan bedug yang tergantung rapih. Semua bahan pun berasal dari dalam negeri, misalnya marmer dari Tulungangung.

Akhirnya, sekitar satu tahun dari peletakan batu pertama (Oktober 2001), pembangunan dapat dirampungkan, dengan biaya keseluruhan (termasuk fasilitas gedung lainnya) sekitar 3,4 miliar. Dan pada peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad tahun lalu, tepatnya 13 Oktober 2002, dicanangkan soft opening (mulai ditempati salat berjemaah). Sedangkan peresmian seremonialnya (grand opening) dilaksanakan dua bulan lalu (28 Mei), dilakukan Menter Agama, sekaligus dalam rangka memperingati HUT PITI ke-42. Pada malam itu juga sertifikat MURI diserahkan. Dan penghargaan itu tidaklah berlebihan dibanding jerih upaya keras mereka, setelah dalam masa penantian selama enam belas tahun lamanya.

Seakan ingin menjelaskan keberadaannya, pada dinding pagar sisi kanan (utara) masjid terdapat monumen replika kapal yang dikendarai Laksamana Cheng Hoo, lengkap dengan pemandangan yang menggambarkan kondisi saat itu (abad ke-14). Terlihat wajah saudagar sekaligus panglima itu menggenggam secarik kertas, semacam ‘SK’ dari Kaisar Cina.  Sedangkan di sisi selatan, berdiri sebuah gedung serba guna berlantai dua. Rencananya, lantai di atas gedung itu  akan dimanfaatkan untuk  lapangan tenis yang selama ini ada di halaman masjid. Sedangkan halaman yang ada, sebagian  akan dipergunakan untuk pengembangan fungsi masjid.

Di samping kantor PITI Jatim dan PITI Surabaya,  juga mangkal “Istana Balita” yang pengelolaannya dipercayakan kepada Kak Kresno (saudara kembar Kak Seto). Sekitar empat puluh anak menjadi siswa TK di sana. “Insyaallah tahun depan SD kita dirikan. Kita menginginkan nantinya sampai perguruan tinggi. Doakan saja”, ujar Delfri, bersemangat. Di sana juga disediakan tempat khusus untuk menangani autisme (anak-anak yang hiper-aktif). Yang membanggakan, ini adalah satu-satunya di Surabaya. Yayasan juga menyediakan kursus bahasa Mandarin. Menariknya, tidak sedikit warga pribumi yang mengikuti kursus itu.

Seperti disampaikan Delfri, Yayasan maupun PITI Jatim menginginkan ke depan masjid ini menjadi sentra bagi siapa saja, khususnya kaum Tionghoa, untuk mengenal Islam lebih dalam. Selama ini, tuturnya, dakwah yang dilakukan kepada komunitas Tionghoa baik melalui Paguyuban Masyarakat Tionghoa (PMT) maupun lainnya seperti sarana olahraga yang disediakan yayasan. Juz ‘Amma (Juz ke-30 dari Al-Quran) yang diterbitkan dengan terjemahan tiga bahasa (Indonesia, Inggris dan Mandarin) ternyata laku keras. Lebih dari itu, selama berdiri, sudah 13 muallaf mengucapkan dua kalimah syahadat di masjid itu. “Sebetulnya mereka (masyarakat Tionghoa –red.) banyak yang tertarik dengan Islam, tapi kadang kita sendiri yang keburu apriori. Belum-belum sudah ditanyai kenapa masuk Islam, mau cari selamat ya? Nah, kan susah?”, paparnya.

Dari sini dapat dipahami jika tidak semua orang Tionghoa yang muslim menjadi anggota PITI. “Ya tidak masalah, yang penting muslim,” sambungnya. Ada semacam kekhawatiran di antara mereka, kalau-kalau PITI condong terhadap paham dan politik tertentu. “Kita ingin tampilkan Islam yang universal, tidak memihak. Makanya NU, Muhammadiyah, dan lainnya kita jadikan penasihat dalam PITI Jatim. Setiap Jumat kita datangkan khatib dari mereka, bergiliran. Seperti di masjid ini Ramadhan kemarin, salat tarawih dilakukan dalam dua versi: sebelas dan dua puluh tiga rakaat”.

Yang jelas, masyarakat Tionghoa Surabaya ingin membaur dan warna asal usul mereka dijadikan dan diterima sebagai kekayaan Islam. “Ke depan, kita ingin masjid ini menjadi obyek wisata reliji di Surabaya, di samping Ampel dan lainnya,” harap Delfri. Dan lebih dari itu, diharapkan akan menjadi simbol universalitas Islam itu sendiri, sehingga sekat-sekat yang selama ini menjadi penghalang pembauran bisa hilang.

Alhasil, kehadiran masjid Cheng Hoo memiliki arti tersendiri, khususnya bagi umat Islam Jawa Timur. Setelah diresmikan dua bulan lalu, tak sedikit orang yang penasaran ingin mengetahui dari dekat, termasuk beberapa jemaah salat yang sempat ditemui Alkisah. Keunikannya tidak hanya menggoda hati kaum muslimin untuk datang ke sana. Menjelang peresmiannya, tak kurang dari Konsul Jenderal AS di Surabaya Philip Antweillerz dan Dubes RRC untuk Indonesia Lu Shu Min  sempat berkunjung ke sana. Bahkan papan nama di atas pintu utama masjid adalah sumbangan sang Dubes.

Pendeknya, takmir masjid akan menyambut siapa saja yang berkunjung. Buku tamu akan disodorkan sebagai tanda bahwa kunjungan itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka.


Jenderal Dari Cina
www.majalah-alkisah.comDipakainya Muhammad Cheng Hoo sebagai nama masjid itu sangat tepat, mengingat peran dan jasanya dalam penyebaran Islam di Indonesia. Cheng Hoo adalah satu tokoh muslim dalam pemerintahan Cina abad ke-14, yang berasal dari satu propinsi di bagian barat laut Cina bernama Xinjiang. Dia termasuk keturunan suku minoritas “Hui” yang berasal dari “Xi Yu” (Bukhara, tempat asal ahli hadits terkenal, Imam Bukhari). Sejarah mencatat  Xinjiang. sebagai pusat lalu lintas terkenal di dunia karena menghubungkan jalur barat dengan timur, yang kemudian oleh Ferdinand Paul Wilhelm Richthofen, seorang ahli geografi dari Jerman, disebut dengan Jalur Sutera. Jalur yang dibuka pada zaman Han (206 SM – 220 M) ini disebut sutera (dan keramik/porselen), karena dua produk inilah yang menjadikan Cina dikenal di seluruh dunia.

Di sisi keindahan alam dan tempatnya yang strategis (berbatasan dengan 8 negara: Rusia, Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Afghanistan, Pakistan, Mongolia dan India), Xinjiang juga dikenal sebagai propinsi yang memiliki komunitas paling lengkap. Agama Islam, Budha, Budha Tibet, Katolik, Kristen, Kristen Ortodoks, Tao, Shamanisme dan lain-lain berkembang tanpa ada gesekan-gesekan berarti di propinsi terbesar di Cina itu. Selain itu, 46 dari 55 etnis minoritas yang ada di Cina hidup dengan rukun di sana. Dan 10 etnis di antaranya, yaitu Hui, Uigur, Khasak, Kirgiz, Uzbek, Tatar, Tajik, Salar, Dongxiang dan Bonan yang mayoritas beragama Islam. Di propinsi Xinjiang umat Islam mencapai 7,6 juta jiwa. Kini, umat Islam di RRC mencapai 20 juta orang. “Pemerintah RRC berprinsip bahwa agama adalah sebuah kebebasan. Maka, siapapun berhak memeluk agama yang diyakininya”, kata Dubes RRC di Indonesia Lu shu Min dalam satu kesempatan.

Membaca sejarahnya, seperti disebutkan dalamwww.majalah-alkisah.com buku terbitan YMCHI, Muhammad Cheng Hoo atau Zheng He (1371-1435 M.) adalah seorang laksamana terkenal pada masa dinasti Ming. Cheng Hoo terlahir sebagai muslim, karena ayahnya dipanggil “Ma Hazhi” (haji). Sedangkan kakeknya bernama Medina, keturunan dari Bay An yang jika ditarik ke atas ada garis darah dari Zaidin Syekh Syamsudin, seorang raja di Xian-Yang di propinsi Yunnan. Cheng Hoo, yang sejak kecil dikenal cerdas namun rendah hati, pada masa berikutnya dikenal sebagai tentara yang banyak membantu dalam memenangi beberapa pertempuran, sehingga Kaisar Zhu Di Ma He menganugerahkannya gelar marga “Zheng” dan mempromosikannya menjadi kasim perdana yang berkuasa penuh dalam memimpin semua kaum kasim intern di istana kerajaan.

Pada tahun 1405, Kaisar Ming menjadikannya panglima armada dengan misi utama memperluas sekaligus mempererat hubungan kenegaraan antara Tiongkok dengan negara-negara di Asia-Afrika, baik dalam  bidang perdagangan, kebudayaan dan lainnya. Selama 28 tahun tugasnya (1405-1433) Laksamana Cheng Hoo telah mengarungi Samudera Hindia sebanyak tujuh kali, dan memimpin awak kapal lebih dari 27.800 orang. Dialah yang pertama kali membuka jalur pelayaran langsung dari Tiongkok ke Samudera Hindia, Laut Merah dan pantai timur benua Afrika.

Sepanjang pelayarannya, tak kurang dari 50 negara dikunjunginya, 40 jalur pelayaran lintas negara dan benua dirintisnya, termasuk “Jalur Sutera dan Porselin”.  Jka dihitung, lebih dari 296 ribu kilometer yang telah dilaluinya. Di samping itu ia kumpulkan berbagai data, peta dan skema pelayaran yang tak ternilai harganya bagi dunia pelayaran dan maritim serta ilmu bumi. Perkembangan navigasi dunia pun mencapai puncaknya pada masanya. Prestasi ini menempatkannya bukan hanya sebagai pelaut terbesar dalam sejarah Tiongkok, tapi lebih dari itu ia adalah pelaut besar pertama di dunia (kedua setelah Marcopolo), jauh sebelum para navigator terkenal melakukannya, seperti Christopher Columbus (penemu benua Amerika), Vasco da Gama atau Ferdinand Magellan. Tapi sayangnya, nama Cheng Hoo tenggelam oleh kebesaran nama ketiga orang tadi.

Disebutkan, bahwa di antara negara dan kerajaan yang sempat dikunjungi Cheng Hoo adalah kerajaan Majapahit, Semboja (Palembang) dan Samudera Pasai (Aceh). Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah tempat yang selalu menjadi tempat favorit persinggahannya. Misi berat yang diembannya tidak melupakan niatnya dalam berdakwah. Konon, Cheng Hoo sempat membangun beberapa masjid, di antaranya di Semarang (sekarang jadi Klenteng), Pantai Ancol Jakarta dan Palembang. Tentang dakwahnya ini Buya Hamka berkata: “Satu nama muslim dari Cina yang amat erat kaitannya dengan kemajuan dan perkembangan agama Islam di Indonesia dan tanah Melayu adalah Laksamana Cheng Hoo (Zheng He)”. Dan akhirnya, Muhammad Cheng Hoo, sang laksamana agung itu wafat dalam perjalanan pulangnya dari nusantara, dan jasadnya dikuburkan di tengah lautan.

Satu hal yang bisa dicatat, melihat tahun pengembaraannya (sejak 1405), berarti ia satu zaman dengan Walisongo. Sebagai pembanding, dalam “Penyebaran Islam di Asia Tenggara” karangan Dr. Muhammad Hasan Al-Aydrus, disebutkan bahwa Maulana Malik Ibrahim –walisongo pertama-- memasuki pulau Jawa dan mengajak raja Majapahit masuk agama Islam pada tahun 801 H./1398 M, dan wafat tahun 1419 M. 

Paling tidak, eksistensi serta peran Muhammad Cheng Hoo semakin meneguhkan betapa tersebarnya Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran para da’i dari daratan Tiongkok, di samping tentu saja para da’i dari Hadramaut Yaman. Tengok saja para Walisongo jika dicermati sebagian di antaranya berdarah Cina. Misalnya Sunan Ampel. Ia adalah putera Maulana Ibrahim Asmoro (As-Samarqandi) dan ibunya keturunan Cina asal Champa, Kamboja. Dan Sunan Bonang, Sunan Drajat serta Sunan Lamongan, adalah putera Sunan Ampel. Sedangkan Sunan Demak dan Sunan Giri adalah menantu beliau.

Dari Sunan Ampel ini banyak tokoh dilahirkan, termasuk Hadratus Syaikh KH. Kholil Bangkalan, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ali Ma’shum (Krapyak Yogya/Lasem), KH. Mutamakkin (Kajen Pati), Kyai Hamid Pasuruan dan lainnya. Di sisi lain, konon Sunan Bonang pun memperistri puteri seorang raja dari Cina, seperti dapat kita lihat di satu bukit kecil tempat petilasan Sunan Bonang di Desa Bonang, Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Begitu juga Sunan Gunung Jati. Bahkan, kota Palembang sendiri berasal dari nama seorang murid Sunan Gunung Jati bernama Pan Lian Bang, yang diutus berdakwah di kawasan tersebut.
www.majalah-alkisah.com
Kalau toh pada akhirnya disimpulkan bahwa penyebaran agama Islam di Indonesia sangat erat kaitannya dengan sejarah Cina, bisa dimaklumi. Karena sejarah mencatat betapa Islam sendiri datang ke negeri Cina sejak masa-masa awal kehadirannya. Bahkan salah seorang sahabat Rasulullah yang bernama Sa’d ibn Abi Waqqash tercatat sebagai penyebar Islam pertama di negeri sutera itu, dan akhirnya wafat di sana. Nama “Saicu Waqs” yang tertera pada sebuah makam tak jauh dari masjid agung Quangzhou Xinjiang, diyakini adalah makam beliau –dalam ejaan Cina).

Agaknya, pemilihan nama masjid Muhammad Cheng Hoo, sangatlah tepat. Karena seperti dituturkan Delfri, salah satu tujuannya adalah untuk menegaskan betapa agama Islam bukan ‘barang’ asing bagi komunitas Tionghoa. Bahkan Islam juga salah satu agama leluhur mereka. 
sumber : http://majalah-alkisah.com

Link ke Facebook

Anggota DPR Dikomplain Soal Alquran Bermasalah

Jakarta Temuan Lembaga Percetakan Alquran soal Alquran yang salah cetak atau tidak lengkap, diamini anggota Komisi VIII Ledia Hanifa Amaliah. Menurut Ledia, dia mendapat keluhan dari konstituennya di Bandung, Jawa Barat.

"Dari daerah ada yang komplain ada juz yang halamannya tidak lengkap," kata Ledia Hanifa kepada Jurnalparlemen.com, Selasa (4/9).

Namun Ledia mengaku belum sempat membuka Alquran pemberian Kementerian Agama tersebut. Karena langsung dibagikan ke konstituen. "Amanahnya langsung dibagikan," jelasnya.

Ledia menganggap ini merupakan tugas Kemenag untuk melakukan kontrol. "Instrumen pengawasannya sudah ada. Tapi jika hal ini terjadi berarti instrumen pengawasan tersebut tidak berjalan. Terlepas dari Alquran tersebut dianggap proses pengadaannya bermasalah ataupun tidak," tambah politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Sebelumnya, mantan Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni minta kepada para pemangku kepentingan untuk segera menarik Alquran bermasalah dari peredaran karena memiliki kesalahan sehingga dapat menyesatkan umat.

"Sementara kepada pengedarnya yang menyebabkan Alquran beredar ke tengah masyaraka segera ditindak. Bila perlu digebuki pelakunya," kata Maftuh di kediamannya, Minggu (2/9).

Maftuh mendapat laporan dari Direktur Lembaga Percetakan Alquran (LPQ) Sarmidin Nasir tentang hasil penelitiannya terhadap pengadaan Alquran tahun anggaran 2011. Alquran yang sudah dicetak dan kemudian diedarkan kepada beberapa lembaga pendidikan, rumah ibadan dan lainnya, ternyata mempunyai kesalahan.
(nwk/nwk)

Link ke Facebook

10 Pondok Pesantren Terbaik di Indonesia

Iseng-iseng ingin mengetahui pondok pesantren terbaik di Indonesia. Hanya ada satu artikel dari sebuah forum (kaskus). Itu pun tidak ada kriterianya, sehingga sangat subyektif, dan saya kira lebih pada terkenal tidaknya. 
Anyway.. ke 10 peringkat ini menurut saya ok-lah, kebanyakan cukup terkenal.
Jika anda punya usulan pondok pesantren lain, silakan tambahkan di komentar. Mohon disertai alasannya. Atau anda punya usulan kriteria/faktor apa saja yang perlu ditinjau dalam menilai kualitas sebuah pondok pesantren, silakan tulis di bawah.. sebagai masukan bagi kami, atau pembaca lain yang ingin study lebih lanjut. 
Di samping nama pondok, saya berusaha menampilkan madzab dan faham  ajarannya. 
.
10 Pondok Pesantren Terbaik di Indonesia
1. Pondok Pesantren Langitan (Syafi’iyah, Asy ‘ariyah)
Pondok Pesantren Langitan adalah salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Berdirinya lembaga ini jauh sebelum Indonesia merdeka yaitu tepatnya pada tahun 1852, di Dusun Mandungan, Desa Widang, Kecamatan Widang, Tuban, Jawa Timur. Komplek Pondok Pesantren Langitan terletak di samping bengawan Solo dan berada di atas areal tanah seluas kurang lebih 7 hektar.
http://langitan.net/
2. Pondok Pesantren GONTOR (non madzab)
Pondok Gontor didirikan pada 10 April 1926 di Ponorogo, Jawa Timur oleh tiga bersaudara putra Kiai Santoso Anom Besari. Tiga bersaudara ini adalah KH Ahmad Sahal, KH Zainudin Fananie, dan KH Imam Imam Zarkasy dan yang kemudian dikenal dengan istilah Trimurti.Pada awalnya Pondok Gontor hanya memiliki Tarbiyatul Atfhfal (setingkat taman kanak-kanak) lalu meningkat dengan didirikannya Kulliyatul Mu’alimin Al-Islamiah (KMI) yang setara dengan lulusan sekolah menengah. Pada tahun 1963 Pondok Gontor mendirikan Institut Studi Islam Darussalam (ISID).
http://gontor.ac.id/
3. Pondok Pesantren Daar El-Qolam (non madzab)
Pondok Pesantren Daar el-Qolam (معهد دار القلم للتربية الإسلامية) adalah sebuah pondok pesantren berlokasi di Desa Pasir Gintung, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten yang didirikan pada tanggal 20 Januari 1968. Pesantren ini adalah gagasan Haji Qasad Mansyur yang direalisasikan oleh Drs. K.H. Ahmad Rifai Arief (1942-1997). Setelah K.H. Ahmad Rifa’i Arief meninggal dunia pada tanggal 15 Juni 1997, pondok ini dilanjutkan oleh K.H. Drs. Ahmad Syahiduddin, K.H. Adrian Mafatihullah Karim dan Hj. Enah Huwaenah. Hingga Maret 2009, Pondok Pesantren Daar el-Qolam merupakan pondok pesantren terbesar sedaerah Banten, dengan jumlah santri 4298 jiwa.
http://www.daarelqolam.ac.id/mp/welcome.aspx
4. Pondok Pesantren DARUNNAJAH (non madzab)
Pada tahun 1942 K.H. Abdul Manaf Mukhayyar mempunyai sekolah Madrasah Al-Islamiyah di Petunduhan Palmerah. Tahun 1959 tanah dan madrasah tersebut digusur untuk perluasan komplek Perkampungan Olah Raga Sea Games, yang sekarang dikenal dengan komplek Olah Raga Senayan. Untuk melanjutkan cita-citanya, maka diusahakanlah tanah di Ulujami.
Tahun 1960, didirikan Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Islam (YKMI), dengan tujuan agar di atas tanah tersebut didirikan pesantren. Periode inilah yang disebut dengan periode cikal bakal, sebagai modal pertama berdirinya Pondok Pesantren Darunnajah.
http://darunnajah.com/
5. Pondok Pesantren Tebuireng (Syafi’iyah, Asy ‘ariyah)
Pondok Pesantren Tebuireng adalah salah satu pesantren terbesar di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pesantren ini didirikan oleh KH. Hasyim Asy’arie pada tahun 1899. Selain materi pelajaran mengenai pengetahuan agama Islam, ilmu syari’at, dan bahasa Arab, pelajaran umum juga dimasukkan ke dalam struktur kurikulum pengajarannya. Pesantren Tebuireng telah banyak memberikan konstribusi dan sumbangan kepada masyarakat luas baik, terutama dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia.
http://www.tebuireng.net/
6. Pondok Pesantren Al Ihya Ulumuddin (Syafi’iyah, Asy ‘ariyah)
pada 24 Nopember 1925 didirikan pondok pesantren di Desa Kesugihan, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, yang kemudian dikenal dengan nama pondok pesantren Kesugihan. Kepemimpinan ponpes ini kemudian dilanjutkan oleh KH Ahmad Mustholih dan KH Chasbulloh Badawi, putra pendiri.
7.Ponpes Asy Syafi’iah Nahdatul Wathon (Syafi’iyah, Asy ‘ariyah)
Maulana al-Syaikh Tuan Guru Kyai Hajji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid
Muhammad Zainuddin Abdul Madjid belajar di Tanah Suci Mekah selama 13 tahun kemudian kembali ke Indonesia atas perintah dari guru beliau yang paling di kagumi, yakni Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath, pada tahun 1934. Setiba di Pulau Lombok beliau mendirikan Sekembali dari Tanah Suci Mekah ke Indonesia mula-mula beliau mendirikan pesantren al-Mujahidin pada tahun 1934 M. kemudian pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 H/22 Agustus 1937 M. beliau mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI). Madrasah ini khusus untuk mendidik kaum pria. Kemudian pada tanggal 15 Rabiul Akhir 1362 H/21 April 1943 M. beliau mendirikan madrasah Nahdlatul Banat Diniah Islamiyah (NBDI) khusus untuk kaum wanita. Kedua madrasah ini merupakan madrasah pertama di Pulau Lombok yang terus berkembang dan merupakan cikal bakal dari semua madrasah yang bernaung di bawah organisasi Nahdlatul Wathan. Dan secara khusus nama madrasah tersebut diabadikan menjadi nama pondok pesantren ‘Dar al-Nahdlatain Nahdlatul Wathan’. Istilah ‘Nahdlatain’ diambil dari kedua madrasah tersebut. Beliau aktif berdakwah keliling desa di Pulau Lombok dan mengajar.
http://www.nw.or.id
7. Pondok Pesantren Al Mu’min (wahabiyah)
pondok Pesantren Al Mu’min adalah sebuah pesantren di Ngruki, Solo yang didirikan oleh “enam serangkai”: Abdullah Sungkar, Abu Bakar Ba’asyir, Yoyok Rosywadi, Abdullah Baradja, Abdul Qohar H. Daeng Matase, dan Hasan Basri.
Pondok ini berdiri sejak tahun 1974 di lokasinya hingga sekarang, di selatan terminal angkutan dalam kota Surakarta, Terminal Tipes, namun berada di wilayah administrasi Desa Cemani, Grogol, Sukoharjo. Setahun sebelumnya ia merupakan sebuah kelompok pengajian kekeluargaan (usrah). Unit dakwah awalnya adalah sebuah siaran radio non-komersial.
8. Pondok Pesantren Al Khairaat (Syafi’iyah, Asy ‘ariyah)
guru besar alalamah sayid idrus bin salim aljufri pendiri sebuah yayasan lembaga pendidikan islam alkahirat, beliau di lahirkan di taris, hadramaut pada14 sya’ban 1309 H bertepatan dengan 15 maret 1881 M, ulama hadramaut yang berhijrah ke indonesia dan menetap di palu (sulawesi tengah). yayasan alkahiraat, yang kini telah memiliki cabang lebih dari 1800 madrasah dan sekolah, terdiri dari TK, SD, SMP, SMA, SMK, MI, MTS, MA, hingga Universitas.
9.Pondok pesantren Putri Al Kenaniyah (Syafi’iyah, Asy ‘ariyah)
Pondok pesantren ini diresmikan pada tanggal 4 Sya’ban 1414 H/ 16 Januari 1944 M, oleh para Alim Ulama, diantaranya adalah mantan presiden RI ke 4 Bapak KH. Abdurrahman Wahid, KH. Syamsuri Badawi dan KH. Zayadi Muhajir serta beberapa tokoh masyarakat disekitar Kecamatan Pulo Gadung Jakarta Timur.
10. Pondok Pesantren La Tansa (non madzab)
Pondok Pesantren La Tansa adalah sebuah pondok pesantren modern yang terletak di daerah Parakansantri, Cipanas, Lebak, Banten. Pesantren ini didirikan oleh Drs. K.H. Ahmad Rifa’i Arief (Almarhum) yang bertindak juga sebagai pemimpin pesantren Daar el-Qolam (Pasir Gintung, Jayanti, Tangerang) saat itu. Kini, setelah pendiri wafat, Pesantren La Tansa dipimpin oleh K.H. Adrian Mafatihullah Karim, MA dan K.H. Sholeh, S.Ag, MM. Lembaga ini bernaung di bawah Yayasan La Tansa Mashiro, yang juga didirikan oleh Drs K.H. Ahmad Rifa’i Arief.
.

Link ke Facebook

Susu Ibu Lindungi Bayi dari HIV

Keampuhan ASI untuk kekbalan tubuh bayi tak diragukan. ASi bahkan bisa membendung virus HIV

Ibu pengidap HIV dianjurkan menyusui bayinya. Penelitian baru menemukan air susu ibu dapat melindungi bayi dari penularan virus HIV.

Peneliti University of North Carolina School of Medicine melakukan percobaan ini pada tikus. Tikus yang mendapat asupan ASI terlindung dari penularan virus HIV. Mereka menemukan bukti bahwa virus HIV tidak menular melalui air susu ibu. Virus HIV mati ketika mengkontaminasi ASI.

“Kami memperkuat keyakinan dan kami memiliki data kuat bahwa ASI bukanlah ‘kendaraan’ untuk menularkan virus tetapi mungkin menawarkan perlindungan,” kata Victor Garcia salah seorang peneliti.

Menurut organisasi kesehatan dunia WHO, lebih dari 15 persen infeksi HIV terjadi pada bayi. Jika tidak diobati, hanya 65 persen dari jumlah anak yang terinfeksi HIV dapat melewati tahun pertama hidup mereka. Kurang dari setengahnya bertahan hingga usia 2 tahun.

Selama bertahun-tahun para ahli HIV menduga penularan virus pada bayi terjadi melalui aktivitas menyusui. Namun kenyataannya sebagian besar bayi yang disusui ibu pengidap HIV tidak terinfeksi.

WHO merekomendasikan para ibu pengidap HIV menyusui bayi mereka. Ibu dan bayi juga diharuskan meminum obat antiretroviral untuk menghindari penularan HIV.

Garcia menilai penelitian ini salah satu terobosan besar. Menurut dia, dibutuhkan penelitian lanjutan untuk mengetahui jenis zat dalam ASI yang membunuh virus HIV. Apakah zat tersebut dapat digunakan untuk mencegah penyebaran HIV dalam bentuk lain.

Meski demikian, hasil penelitian ini tidak menganjurkan ibu pengidap HIV menyusui bayi tanpa mengonsumsi antiretroviral. Peneliti juga harus melihat hasil penelitian selanjutnya, apakah ASI dari donor yang terinfeksi HIV akan menunjukkan hasil serupa. (*)  
sumber : abcnews.com

Link ke Facebook

Friday, February 17, 2012

Pembangunan Tahap II Gedung Belajar dilanjutkan

 Gedung belajar di Ponpes Putra Rinjani NW Dasan Baru dilanjutkan hari ini, Jum'at 17 Februari 2012. Tampak para jamaah / masyarakat yang datang memulai gotong royong di Madrasah. Seperti yang terlihat pada foto-foto ini bahwa bahan bangunan sebagian sudah disiapkan seperti batubata, pasir dan  20 sak semen. Namun besi, batu kerikil dan bahan persiapan pengecoran lantai pertama belum ada. Tahap pertama pada tahun 2011 hanya dapat menyelesaikan bagian pondasi dan tiang serta balok tariknya, sehingga belum dapat ditempati untuk belajar. Sedangkan kondisi belajar siswa sangat kurang nyaman karena masih ditampung di Mushalla diluar lingkungan Madrasah. Oleh sebab itu kami menghimbau kepada segenap pembaca yang budiman untuk dapat kiranya mengambil bagian Amal Jariyah di Pembangunan sarana menuntut ilmu ini. Jika berkenan menyalurkan dana sumbangan, harap hubungi kami via kontak admin atau Menu  Donasi.
Insya'Allah Amal Jariyah anda akan kami pergunakan sebaik-baiknya untuk Investasi Akhirat anda. Mari Menanam Investasi di Dunia untuk mendapatkan profit akhirat yang berlipat ganda. satu amal bernilai tujuh tangkai, dan masing-asing tangkai berbuah seratus biji. Ternyata profit akhirat lebih besar dari profit Dunia.
Mari Berinvestasi.....







Link ke Facebook

Monday, May 2, 2011

Pondok Pesantren Mesti Mempersiapkan Generasi Yang Lebih Matang


Tim pengawas Pondok Pesantren, Seksi Pekapontren Departemen Agama Kabupaten Lombok Timur pada hari Senin, 02 Mei 2011 mengunjungi Pondok Pesantren Putra Rinjani NW Dasan Baru Desa Suntalangu Kecamatan Suela Lombok Timur. 
Hadir saat itu Kepala Seksi Pekapontren H.Khairil Anwar, S.Ag. berserta rombongan. Kehadiran pengawas tersebut berkaitan dengan Ijin Operasional Pondok Pesantren yang diusulkan oleh Pengurus Pondok Pesantren Putra Rinjani NW pada beberapa minggu yang lalu. Mengamati situasi dan kondisi yang ada, H.Hairil Anwar menyambut baik keinginan pengurus untuk melegalisasi lembaga ini. dengan legalnya lembaga yang dikelola, maka proses pengkaderan di tempat ini akan semakin lancar. beliau berharap kedepan lembaga ini harus dikembangkan lebih baik dari kondisi saat ini, mari kita belajar dari ponpes-ponpes yang ada dan lebih maju. jangan hanya legalisasi yang ada namun program pendidikan keislaman tidak dilaksanakan dengan baik. laksanakan kajian-kajian kitab kuning, Qiro'atul Qutub, dan tahfiz al-Qur'an dan menggalakkan komunikasi dengan bahasa arab dan inggris sehingga lulusan di ponpes ini tidak kalah kwalitasnya dengan ponpes lain. jadilah ponpes yang berprestasi agar dilirik oleh orang luar. sehingga peserta didik tidak lagi dicari namun mereka yang mencari. harus kita akui bahwa ponpes-ponpes di Lombok Timur ini masih belum mencapai standar operasional karena sangat terbatas dengan SDM dan fasilitas fisik. oleh sebab itu dengan kami membantunya memberikan ijin operasional nantinya, dapat memotivasi untuk lebih giat mengembangkan proses pendidikan jelasnya.(pr-1.)

Link ke Facebook